Belajar Tanpa Zonasi

0
727

“Setiap tempat adalah ruang kelas, Setiap waktu adalah masa belajar, dan setiap orang yang kita temui adalah guru”.

Belajar tanpa mengenal batas. Setiap ruang dan waktu akan memberikan kita pembelajaran. Prof So Jin Kwang, ex President Saemaul Undong Center, selama 7 tahun menyelesaikan bukunya In Reflection of Time and Space “dalam refleksi ruang dan waktu” untuk menarik pembelajaran 30 tahun, bagaimana Korea Selatan bisa bangkit dari negara miskin menjadi negara maju, lewat gerakan Desa Baru “Saemaul Undong”.

Gerakan Desa Baru bertumpu pada tiga hal “Self Help – bertumpu pada kaki sendiri”, “Diligent – tekun dan rajin”, dan “Cooperation – kerjasama”. Sesungguhnya Saemaul Undong berhasil meningkatkan pendapatan perkapita warga desa 30 kali lipat, bukan karena besarnya bantuan pemerintah, bukan karena pembangunan infrastruktur tetapi keberhasilan bersama merubah mindset dan prilaku.

Prof So menyatakan kesimpulan dalam bukunya, “pemberdayaan yang berhasil, membutuhkan ruang dan waktu. Tanpa adanya ruang partisipasi program pemberdayaan apapun tidak akan berkelanjutan. Untuk warga percaya, mendukung dan berkontribusi kita butuh waktu”.

Apakah Indonesia tidak memiliki hal semacam itu?

Pada tahun 1993 kita punya program pemberdayaan untuk desa miskin yang kita kenal dengan Inpres Desa Tertinggal (IDT). Ada 22.000 desa miskin teridentifikasi dari perhitungan indeks BPS, Kemendagri dan Kemenkeu. Indeks tersebut selanjutnya diolah oleh BAPPENAS untuk menjadi sinkronisasi program antar kementerian.

Kementerian mengeroyok desa-desa miskin tersebut dengan sinergi program Tribina “Bina Warga, Bina Masyarakat, Bina Lingkungan”. Program ini dikawal mahaguru Pemberdayaan Indonesia Prof Mubyarto dan Prof Gunawan Sumidiningrat.

Apa yang salah dari Program itu?

Tidak ada. Program IDT memberikan pondasi dasar pengentasan kemiskinan, yang kita kenal dengan Capacity Building. Manusianya dulu yang dibangunkan. Karangrejek di Gunung Kidul, yang Bumdesnya mampu mengolah problem air bersih menjadi bisnis sosial berkelanjutan adalah jebolan program IDT.

Desa-desa yang berhasil memanfaatkan dana desa, adalah desa-desa yang kapasitas sosial masyarakat dan sosial politiknya sudah terbangun. Sekali lagi pemberdayaan tidak tumbuh dalam ruang kosong, butuh ruang dan waktu. Desa-desa yang berhasil memanfaatkan dana desa, bukan muncul tiba-tiba tetapi mereka telah membangun kapasitas masyarakatnya sejak program IDT dan PNPM.

Mengapa dana desa belum berhasil memberikan dampak pada ekonomi nasional? Mengapa program-program di desa belum beranjak dari pengentasan kemiskinan ke peningkatan daya saing? Apakah paradigma kita masih terjebak paradigma desa lama? Yaitu kita memandang desa sebagai sumber masalah bukan sumber solusi?

Ketika kami berdiri di depan Gachon University salah satu Universitas Swasta terbesar di Korea, Prof So menerangkan simbol “simpul tak berujung”. “Itulah belajar. Mencari ilmu, tidak mengenal batas. Sebuah perjalanan tanpa akhir”.

Pada titik itu saya tersentak. Mengingat kembali lembaran skripsi yang tertulis 18 tahun lalu. Ada kutipan surat Ali Imran ayat 190 “Dan dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah, bagi orang-orang yang mau berpikir”.

Langit dan Bumi adalah pengenalan ruang, pergantian siang dan malam adalah pengenalan waktu. Ruang dan Waktu. Kita belajar banyak kalau mau menyisihkan waktu mengamati lebih dalam fenomena-fenomena ruang dan waktu. Saya jadi merasa malu. Mengapa saya harus jauh-jauh sampai ke Korea Selatan untuk sadar akan hal itu? Mungkin karena belajar, seharusnya tidak mengenal zonasi.

Penulis: Rudy Suryanto, SE., M.Acc., Ak., CA
(Founder Bumdes.id dan Sekolah Bumdes, Social Enterprise Incubator, Dosen UMY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here