Infrastruktur // Teknologi

Era Digitalisasi, UMKM Harus Keluar dari Zona Konvensional

Jurnaldesa.id | Jakarta – Situasi pandemi sedikit banyak memiliki pengaruh kepada kegiatan usaha UMKM. Pola usaha sebelum pandemi mendapat tantangan ketika pandemi terjadi. Beberapa UMKM memang masih mencoba untuk bertahan menghadapi situasi pandemi, tetapi ada juga pelaku UMKM yang bertransformasi kegiatannya ke teknologi.

“Kebiasaan pelaku UMKM dimasa sebelum pandemi sedikit banyak memberikan kemampuan untuk bertahan di masa tersebut. Tetapi ketika sudah memasuki masa pandemi ada beberapa juga UMKM yang mempertahankan pola konvensional dan ternyata di masa pandemi teruji ketahanan ekonominya. Ada beberapa yang kolaps atau tutup UMKM yang ada, tetapi ada juga yang justru mampu bertahan bahkan berkembang menjadi lebih baik,” kisah Freddy Handaka, Pemerhati dan Praktisi Perbankan.

Ia bercerita, transformasi pelaku UMKM ke teknologi menjadi kunci dari kemampuan pelaku UMKM untuk bertahan dan berkembang di masa pandemi. Tentunya ini merupakan kecenderungan dan terobosan baru di bidang UMKM, dari kemampuan UMKM untuk transformasi ke teknologi dapat dipetik pelajaran bahwa kemampuan penguasaan teknologi menjadi poin penting dalam menjalankan usaha. Dan perbankan sebagai institusi intermediasi keuangan memiliki peranan penting dari keberlangsungan arus keuangan UMKM.

“Memang betul di beberapa perbankan, divisi kredit mikro ada yang kolaps atau tutup. Tetapi ini tidak sepenuhnya kesalahan kredit macet dari UMKM yang terhubung, karena database UMKM ini besar sekali, bisa jutaan jumlahnya, jadi merupakan fenomena yang aneh ketika divisi mikro sebuah perbankan justru kolaps atau tutup. Perilaku compliances, prudent atau tidaknya dan risk management menjadi penentu bagi verifikasi kredit perbankan dan inilah yang menjadi unsur dari keberlangsungan divisi mikro sebuah perbankan,” tutur Freddy Handaka.

Ia mengatakan, ada beberapa contoh perbankan yang justru ekspansif di masa pandemi ini, seperti misalnya perbankan nasional, Bank Syariah Indonesia (BSI) justru membangun dan mengembangkan serta memperluas portofolio mereka ke sektor mikro. Di perbankan swasta juga ada seperti Bank Sahabat Sampoerna juga dekat dengan pelaku UMKM dan membuka akses keuangannya untuk UMKM. Memang betul, sedikit banyak pelaku UMKM tidak memahami apa yang harus dilakukan untuk berhubungan dengan pihak perbankan, inilah manfaatnya bentuk pembinaan sebagai media antara perbankan dan pelaku UMKM.

“Sedikit info, di waktu yang dekat ini Pemerintah RI sedang mempersiapkan program Student Entrepreneurship atau Kewirausahaan Mahasiswa. Sehingga di masa yang akan datang mahasiswa ketika lulus kuliah tidak perlu lagi untuk sibuk mencari lowongan pekerjaan tetapi justru memiliki usaha sendiri. Tentunya program ini diperuntukkan agar mahasiswa memiliki kemandirian dalam berekonomi dan bahkan memiliki kemampuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan di masa yang akan datang,” pungkas Freddy Handaka.

Untuk ulasan lebih lengkapnya dapat disaksikan di tayangan video berikut :

Era Digitalisasi, UMKM Harus Keluar dari Zona Konvensional

Pewarta : FEB
Editor : LIN

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sorotan Publik

To Top