Hudu Hubak Pertemukan Suku Lawaewak dalam Ritual “Bua Orin”

0
198
jurnaldesa/foto.Desa Adolaba (Ritual Bua Orin oleh Suku Lawaewak, Flores Timur, NTT)

Jurnaldesa.id | Flores Timur – Salah satu suku yang mendiami Lewo Lango Belen Narawayong Desa Adobala, yakni Suku Lamaewak (Ape Kuun), pada Sabtu (27/06/2020) melakukan seremonial adat tahunan di Pondok Adat (Orin) sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur yang empunya suku tersebut.

Seremonial adat ini dinamakan “Bua Orin” (makan bersama di pondok adat). Bua Orin dilakukan setahun dua kali, sebelum musim tanam (Tubak Mula) dan setelah panen hasil kebun (Hudu Hubak). Pada Hudu Hubak kali ini Suku Lamaewak kembali mendaraskan pujian untuk leluhurnya melalui makan bersama di Pondok Adat (Orin). Pondok tempat berkumpulnya keluarga besar Suku Lamaewak di sebut “Orin Ketuok’.

Pada acara Bua Orin ini, keluarga besar Suku Lamaewak yang datang ke Orin Ketuok membawa Ayam (manuk) yang lebih dulu dibwa oleh kaum laki-laki (Ama Lake). Selain itu juga disiapkan tuak (alkhol hasil irisan kelapa) yang nantinya digunakan untuk acara ritual Bau Lolon oleh pemangku adat suku Lamaewak.

Setelah ‘sesajian’ itu terkumpul, pemangku adat Suku Lamaewak, Mehene Lewo (Lewo Alape), duduk bersama di depan pondok adat pada batu yang telah disiapkan (Nobo) untuk memulai ritual Bau Lolon bersama atau disebut “Behin Muan Papa Muan”. Dalam upacara ini difasilitasi oleh Ana Opu sebagai Mehine Alape.

Selanjutnya pemangku suku tersulung (Bebeleka) dan Ana Opu melakukan pemotongan ayam (Howak Manuk) sebagai bentuk sesajian untuk leluhur. Semua ayam yang sudah terkumpul dipotong dan dimasak secara tradisional yang disebut dengan “Manuk Tapo Sewut” (daging ayam dicampur dengan ampas kelapa).

Biasanya upacara makan bersama ini dilakukan pada sore hari. Menjelang sore kaum perempuan dari suku Lamaewak mulai berdatangan dengan membawa nasi (Wata Tah’ha) yang sudah dimasak dari rumah masing-masing untuk dikumpulkan bersama.

Setelah semuanya terkumpul di pondok adat (Orin Ketuok), upacara Bua Orin dimulai. Kaum laki-laki mempersiapkan fasilitas pendukung seperti daun pisang (Muko Lolon), tempat duduk (Nobo), tempurung (Keo) dan lain sebagainya. Kaum Perempuan juga menyiapkan segala keperluan seperti nasi, piring, sendok dan lain sebagainya.

Upacara diawali dengan Bau Lolon bersama atau Behin Muan Papa Muan oleh pemangku adat Suku Lamaewak dan Lewo Alape (dari Suku Guru Mada) yang dilakukan oleh Ana Opu sebagai Mehine Alape. Acara makan bersama di pondok adat dilakukan oleh keluarga besar suku Lamaewak sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur Lera Wulan Tana Ekan sebagai wujud tertinggi kita di Lamaholot. Upacara ini diakhiri juga dengan Behin Mua Papan Muan yang difasilitasi oleh Ana Opu.

Referensi: Desa Adobala
Pewarta: Parlin S.
Editor: Djali Achmad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here