Kebutuhan Solusi IoT Tinggi, Peluang Bagi Makers Lokal

0
366
jurnaldesa/foto:jpp.go.id (Talkshow Kesiapan Solusi IoT Lokal dan Program IoT Makers Creation 2019)

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai para penyedia lokal solusi Internet of Things (IoT) yang siap melayani kebutuhan industri masih jauh dari cukup. Karena itu Pemerintah mendorong pengembangan ekosistem, khususnya sumberdaya manusia agar bisa memanfaatkan peluang IoT. Pasalnya, potensi industri IoT bisa mencapai Rp 444 Triliun di tahun 2022.

“Menjadi tanggungjawab bersama, termasuk pemerintah. Tentu saja kami tidak bisa jalan sendirian. Kolaborasi akan membuat proses ini menjadi lebih cepat,” jelas Direktur Industri Elektronika dan Telematika (IET), Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Janu Suryanto, dalam Talkshow Kesiapan Solusi IoT Lokal dan Program IoT Makers Creation 2019, di Jakarta, Rabu (19/6/2019) lalu.

Direktur Janu Suryanto menilai peran pemerintah saat ini tidak cukup jika hanya menjadi policy makers dan regulator, namun perlu menjadi fasilitator agar Indonesia bisa menangkap peluang digitalisasi dengan maksimal. “Kami lihat penyedia solusi IoT lokal di Indonesia tidak kalah dibandingkan pemain global. Mereka bahkan diunggulkan karena lebih memahami situasi yang ada dan kebutuhan industri di Indonesia sehingga dapat menyediakan solusi yang sesuai,” ujar Janu.

Menurut Janu, solusi tersebut harus bisa menghadirkan efisiensi bagi bisnis atau nilai tambah tertentu yang kebutuhannya bisa berbeda bagi setiap industri, bahkan perusahaan. “Solusi IoT, khususnya bagi industri merupakan solusi yang customized. Untuk itu, dalam mendorong implemetasi industri 4.0, tahun ini kami fokus para program pendidikan,” tandasnya.

Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Ismail menjelaskan industri IoT di Indonesia memiliki banyak elemen. Salah satu yang paling utama adalah infrastruktur, meliputi jaringan hingga perangkat. Elemen lainnya di atas jaringan ada aplikasi, dan di atasnya lagi ada konten. Solusi IoT melingkupi seluruh elemen di atas.

”IoT merupakan gabungan antara jaringan dengan aplikasi dan mengubah komunikasi tidak lagi melibatkan orang, namun langsung antar perangkat. Semua benda saling terkoneksi melalui internet dan ini mengubah wajah dunia,” ujarnya.

Talkshow hasil kerja sama Kementerian Kominfo, Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI itu merupakan bagian dari IoT Makers Creation 2019. Program pencarian dan pembekalan untuk para pelaku startup lokal itu ditujukan untuk mengembangkan solusi IoT dari berbagai daerah di Indonesia.

Tahun ini, IoT Makers Creation terdiri dari tiga aspek kegiatan, yaitu: hands on workshop di 10 kota (Mataram, Bogor, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Makassar, Medan, dan Tangerang), perlombaan dan pameran solusi, serta pengembangan solusi lanjutan melalui pelatihan di luar negeri dan program lanjutan di lab IoT milik pelaku industri.

Manfaatkan Potensi Rp 444 T

Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia Teguh Prasetya mengatakan potensi bisnis IoT tidak akan tercapai tanpa dukungan ekosistem yang kuat dengan melibatkan seluruh stakeholder. ”Kami berupaya untuk membentuk ekosistem IoT yang diharapkan tumbuh disetiap wilayah guna menjawab kebutuhan yang unik terkait dengan pemerintah daerah, lingkungan, korporasi dan industri,” ujarnya.

Menurut Teguh, besaran potensi IoT di Indonesia sebesar 400 juta perangkat dengan nilai bisnis sebesar Rp444 Triliun pada tahun 2022 harus segera diwujudkan. Apalagi saat ini, Kementerian Kominfo telah mendukung dengan aturan PM No.1/2019 tentang Ijin Kelas dan Perdirjen No.3/2019 Tentang LPWA (Low Power Wide Area Network).

”Ini dimulai dengan pengembangan SDM terampil di bidang IoT dalam hal ini ASIOTI juga turut berperan aktif dalam pembuatan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) IoT yang ditargetkan rampung tahun ini,” ujar Teguh. Menurut Teguh lagi, peran kolaborasi Kementerian Kominfo dan Kemenperin merupakan solusi bersama yang ditawarkan untuk mempertemukan antara makers, pemerintah dan industri. “Dalam satu wadah yang diharapkan mampu menumbuhkan kolaborasi guna mendukung pertumbuhan IoT dalam menyongsong pertumbuhan Industri 4.0 di Tanah Air,” tandasnya.

Sementara itu, dari kalangan industri telah mengembangkan ekosistem dengan program yang berbeda. General Manager Reserach Manajemen PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) Edyson B. Tamba, menyebut saat ini Telkomsel sudah melewati fase pertama Program TINC (Telkomsel Innovation Center). “Isinya adalah program inkubasi para startup untuk menghasilkan solusi ataupun produk komersial,” jelasnya.

Group Head Enterprise Product and Marketing PT XL Axita Tbk, Sharif Lukman Mahfoedz, menyatakan komitmen untuk mendukung lahir dan bertumbuhnya semakin banyak sumber daya manusia Indonesia di bidang IoT. ”Partisipasi aktif yang telah kami lakukan ini, bertujuan untuk mendukung pemerintah sepenuhnya didalam menyukseskan program roadmap industri 4.0. Dan kami sangat menyadari bahwa tujuan program ini dapat tercapai secara efektif bila keseluruhan ekosistem IoT di Indonesia dapat bertumbuh secara beriringan,” ujarnya.

Meski demikian, Division Head Product Planning Engineering PT Tower Bersama Sigit Cahyo menilai agar dapat diterima pasar, masih perlu sosialisasi dan edukasi terkait tentang IoT itu sendiri. Dia menilai IoT makers Creation mendorong adanya pertumbuhan para makers baru dari berbagai penjuru tanah air. “Kunci sukses agar IoT diterima pasar, yaitu kesesuaian dan integrasi komponen sensor, jaringan, platform, aplikasi dengan model bisnis yang mendisrupsi kondisi saat ini dapat tercapai,” pungkas Sigit.

Penulis: Berry
Editor: Djali Achmad
Referensi: jpp.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here