Lingkungan // Kehutanan

Kontekstual Sumpah Pemuda Terhadap Generasi Milenial

Jurnaldesa.id | Tangerang – Pemuda Indonesia sepanjang sejarah pergerakannya merupakan avant garde atau ujung tombak bagi kemajuan negerinya. Sebagai sebuah perjalanan panjang kehidupan sebuah bangsa, telah tiba ke sebuah perjumpaan ke 93 kalinya di ruang dan waktu yang pada konteks kekinian telah diamalkan dari generasi ke generasi.

Sebuah pengamalan terhadap kecintaan kepada bangsa dan negerinya, Sumpah Pemuda merupakan sebuah nilai kemanusiaan yang universal dari Indonesia, oleh Indonesia dan untuk dunia. Tata nilai yang hendak dibangun oleh para pemuda di tahun 1928 merupakan sebuah wujud dari konstruksi kemanusiaan sebuah tanah air, sebuah bangsa, sebuah bahasa, Indonesia.

“Setiap generasi memiliki warnanya sendiri dan kita tak memiliki priviledge untuk menghakimi bahwa apa yang ada dihari sekarang baik atau buruk, benar atau salah. Sebab generasi Z, memiliki pemahamannya juga, yang kalau dilihat dari perkembangan teknologi, pergaulan dan update informasi yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya melalui sosial media. Pengetahuan generasi Z tentang situasi dunia lebih update dibandingkan dengan generasi sebelumnya,” kisah Mahendra Uttunggadewa, Pemerhati Budaya dan Lingkungan saat podcast bersama Explore Media di Bantaran Sungai Cisadane, Cihuni, Tangerang, Banten.

Ia mengutarakan, yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah, apakah generasi Z sudah cukup terinformasi tentang Sumpah Pemuda atau belum. Sehingga bisa kita dapatkan benang merahnya untuk mengetahui apakah filosofi Sumpah Pemuda masih dijiwai oleh generasi mendatang. Apabila ternyata tidak terinformasi dengan baik, kenapa bisa terjadi? Mengapa ghirah Sumpah Pemuda tidak, katakanlah viral seperti hal lainnya.

“Sebab problem yang terjadi sekarang adalah, generasi muda hanya mengetahui teks Sumpah Pemuda yang sekedar kontrak sosial. Masa kini tidak mengetahui bahwa ada 5 faktor yang melengkapi 3 pasal Sumpah Pemuda yakni, pertama kemauan, kedua sejarah, ketiga adat, keempat kepanduan dan pendidikan serta kelima adalah bahasa. Kenapa itu tak pernah diungkap? Yang akhirnya dapat kita lihat secara komprehensif bagaimana kita mengilhami Sumpah Pemuda dalam pengamalannya,” seru Mahendra Uttunggadewa.

Ia menuturkan, kenapa Sumpah Pemuda tidak viral mengisi ruang virtual? Kenapa media, instasi pemerintahan, NGO, Sejarawan tak pernah mengupas hal ini secara masif? Atau bahkan mengapa tak ada yang secara bertubi – tubi untuk menghidupkan Sumpah Pemuda di ruang maya. Sumpah Pemuda adalah sebuah nilai universal dimana perikehidupan dan perikemanusiaan bangsa Indonesia inheren didalamnya kelestarian alam. Tak ada satupun adat di Indonesia yang berseberangan dengan alam, masyarakat adat tak pernah eksplotatif terhadap alam, sebab buat adat kita adalah bagian dari alam.

“Kalau kita referensikan dengan Sustainable Develoment Goals (SDG) yang ditelurkan oleh PBB, salah satu klausulnya adalah kerusakan alam, telah terjadi pemanasan global dan perubahan iklim yang semuanya diakibatkan oleh manusia. Tidak ada hewan yang merusak alam, tetapi kerusakan alam semuanya murni perbuatan manusia dan kita semua harus kembali kepada nilai luhur yang merawat lingkungan dan pelestarian alam,” pungkas Mahendra Uttunggadewa.

Untuk ulasan lebih lengkap dapat disaksikan ditayangan video berikut :

Kontekstual Sumpah Pemuda Terhadap Generasi Milenial

Pewarta : FEB
Editor : LIN

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sorotan Publik

To Top