Menteri Susi Dukung Pertamina Menanggulangi Oil Spill di Pantai Karawang

0
564
jurnaldesa/foto:kkp (Menteri Susi Pudjiastuti dan Direktur Utama PT. Pertamina Nicke Widyawati saat konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta, Kamis, 1/8/2019)

Jurnaldesa.id | Jakarta – Peristiwa tumpahan minyak (oil spill) akibat kebocoran Hulu Energi sumur YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ) milik Pertamina di pesisir pantai utara Karawang, telah menyita banyak perhatian termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Untuk itu KKP bersama Pertamina menyampaikan konferensi pers terkait perkembangan penanganan oil spill serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat pesisir di Kantor KKP, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Hadir dalam kesempatan tersebut Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Direktur Utama PT. Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, Direktur Hulu PT. Pertamina (Persero) Dharmawan Samsu, Direktur Utama PT. Pertamina Hulu Energi Meidawati, dan jajaran Eselon I lingkup KKP.

Dirut Pertamina Nicke menjelaskan, saat ini pihaknya terus berupaya optimal agar tumpahan minyak tidak meluas dengan mengerahkan tujuh lapis proteksi di sekitar anjungan. Salah satunya dengan menaruh oil boom di sekitar anjungan. Oil boom adalah alat untuk melokalisir tumpahan minyak di perairan sekitar anjungan.

“Tujuh lapis proteksi telah kami kembangkan di sekitar daerah terdampak. Di lapis 1 kita pasang static oil boom di anjungan YYA-1 sepanjang 2.450 meter untuk menahan oil spill. Di layer 2 kita pasang moveable oil boom sepanjang 2×200 meter untuk menghadang ceceran minyak dari lapis 1 yang belum tertahan sepenuhnya,” jelasnya.

Selain itu, Pertamina telah mengerahkan 3 oil skimmer untuk mengangkat dan menyedot tumpahan minyak yang berada di sekitar anjungan. Pihaknya juga menurunkan 39 kapal untuk menampung sementara tumpahan minyak yang telah disedot.

Sebagai bentuk dukungan KKP terhadap Pertamina, Menteri Susi telah meninjau pesisir pantai utara Karawang hingga Kepulauan Seribu dari udara menggunakan helikopter pada Kamis pagi (1/8). Menteri Susi menyampaikan, masyarakat tidak perlu khawatir karena institusi pemerintah terkait, baik Pertamina, KKP, KLHK, dan Kementerian ESDM akan menanggulangi dampak dari perisitiwa ini hingga tuntas.

“Peristiwa ini sebetulnya kecelakaan, musibah yang tidak kita harapkan. Saya tidak begitu khawatir karena Pertamina akan menanganinya dengan baik,” ujarnya. Menteri Susi juga memastikan bahwa stakeholders yang terdampak, utamanya nelayan, petambak, dan warga pesisir akan mendapat kompensasi dari Pertamina. “Tentunya, stakeholders yang dirugikan akan mendapat recovery atau kompensasi,” ucapnya.

Kendati demikian, Menteri Susi berharap agar ke depannya Pertamina menyediakan lebih banyak oil boom untuk meminimalisir penyebaran minyak apabila terjadi peristiwa serupa. “Mungkin ini menjadi pelajaran bagi kita semua ke depan, oil boom harus kita stok lebih banyak. Karena kalau menangani lebih cepat dengan oil boom, lebih banyak liquid ini tidak akan sampai ke pinggir,” ujarnya.

Menteri Susi menyarankan agar Pertamina menyediakan command center untuk mengatur lalu-lintas kapal agar penanganan dapat dilakuan lebih cepat. “Kapal-kapal untuk menangkap tumpahan minyak cukup banyak, mungkin bisa lebih dimaksimalkan command centernya Pertamina dalam menjangkau minyak yang luput dari oil boom,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjutnya, Menteri Susi menegaskan bahwa KKP bersama Pertamina dan Kementerian Lembaga terkait lain akan terus upaya menanggulangi secara optimal hingga tuntas. Menurutnya, pemulihan ini akan memakan waktu minimum 6 bulan karena dampak lingkungan yang timbul ke depannya harus diantisipasi terus menerus.

“Pasti akan ada terus program konservasi dan recovery dari dampak oil spill ini. Kita harapkan recovery secara fisik dapat terjadi dengan cepat, as best as we can yang bisa kita usahakan,” tuturnya. Hal itu dipertegas oleh Nicke. Ia memastikan Pertamina berkomitmen untuk menanggulangi hingga tuntas. “Mengenai ganti rugi kita akan lakukan secepatnya. Kami masih berkoordinasi dengan pemda dan dinas terkait untuk merumuskan dan menetapkan standar kompensasi untuk masyarakat,” ujarnya.

Terkait lingkungan, Nicke menjelaskan bahwa penanganan yang dilakukan saat ini berfokus pada mematikan sumur YYA-1 yang dibantu dengan perusahaan asing Boots & Coots yang berkompeten dibidangnya. Untuk jangka panjang Pertamina akan melakukan CSR secara berkala dan recovery terhadap lingkungan.

“Kalau ada lingkungan yang rusak, kami berkomitmen untuk recovery. Walau sampai kini ada ceceran minyak yang lepas dari oil boom dan belum terambil di lautan, kami berkomitmen kemanapun spill-nya ada di lautan Indonesia akan kami kejar. Selama ini, program CSR sudah kita jalankan dengan baik dan akan kita tingkatkan,” pungkasnya.

Pewarta: Yudi AS.
Editor: Djali Achmad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here