Menu

Mode Gelap

Artikel · 27 Jul 2019 15:00 WIB ·

Merawat Budaya Menjunjung Kearifan Lokal

jurnaldesa/foto:tengkufahrizal (Merawat Budaya Menjunjung Kearifan Lokal)

Jurnaldesa.id | Serdang Bedagai – Buaian angin pantai yang cukup teduh tak membuat Eva Harlia (30), warga Desa Pantai Cermin Kanan, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, berhenti untuk meneruskan warisan budaya turun temurun. Warisan masyarakat pesisir pantai timur Sumatera berupa ketrampilan seni merajut dan menganyam tanaman pandan laut ini telah ditekuni oleh Ibu dua anak itu sejak 8 tahun yang lalu.

Di rumah sederhananya, di salah satu sudut Kampung Sungai Merah, setiap harinya selalu tampak tangan-tangan terampil yang mengolah tanaman pandan laut menjadi aneka aksesori yang beraneka rupa. “Selain menjaga budaya keterampilan merajut dari para orang tua, kegiatan ini juga lumayan untuk menambah pendapatan keluarga,” tutur Eva Harlia sambil menganyam bersama 30 Ibu-ibu rumah tangga sekitar rumahnya.

Diselingi gurauan-gurauan yang berlogat khas melayu, proses pengerjaan kerajinan yang membutuhkan waktu hingga 10 hari itu seperti menjadi kesenangan tersendiri. “Sebelum menjadi kotak tisu dan tikar, pandan yang kami ambil dari pesisir laut ini di pijah terlebih dahulu. Lalu dijemur hingga kering, selanjutnya direbus menggunakan pewarna hingga akhirnya di anyam,” ungkap Eva sambil menunjukan aneka produk kerajinannya berupa tikar, tas sandang, dompet, kotak tisu, sajadah, dan lainnya.

Kediaman Eva Harlia yang telah disulap menjadi workshop kerajinan tangan itu selain membuat produk kreasi sendiri juga telah melayani permintaan dari negara Malaysia. Produk yang dipesan oleh negeri jiran itu berupa sandal untuk kebutuhan hotel-hotel disana. Disisi lain ketika permintaan produk hasil kerajinan Ibu-ibu Kampung Sungai Merah dari luar cukup lumayan ada, sayangnya minat pengrajin muda kampung setempat dan sekitarnya sangat minim keberadannya.

Seni mengayam dan merajut pandan laut yang ditampilkan oleh masyarakat Serdang Bedagai memiliki kaidah dan pola yang masih terjaga. Dengan menerapkan pola tiga dara antara motif tampuk, manggis, dan terawang, masyarakat yang dahulunya masuk dalam Kedatukan Kesultanan Serdang ini tetap komit dalam merawat dan menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokalnya. Hal itu merupakan satu cara dalam menjaga tanah bertuah negeri beradat, marwah pusaka adat.

Penulis: Djali Achmad
Referensi: Tengku Fahrizal

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 782 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

3 Dari 5 Desa Perbatasan Kecamatan Tulin Onsoi Dengan Malaysia Masih Tertinggal

19 November 2023 - 10:02 WIB

Desa Terdepan

Limpakon, Desa Perbatasan Kecamatan Lumbis Ogong Dengan Malaysia Masih Tertinggal

18 November 2023 - 10:29 WIB

Desa Terdepan

Status 6 Desa Perbatasan di Kecamatan Lumbis Pansiangan Masih Tertinggal

17 November 2023 - 09:16 WIB

Desa Terdepan

Seluruh Desa Perbatasan di Kecamatan Lumbis Hulu Berstatus Desa Tertinggal

16 November 2023 - 10:18 WIB

Desa Terdepan

Pa’ Loo, Satu-satunya Desa Perbatasan di Kecamatan Lumbis Dengan Malaysia

15 November 2023 - 10:27 WIB

Desa Terdepan

Status IDM Pada 3 Desa Perbatasan Kecamatan Krayan Timur Dengan Malaysia

14 November 2023 - 16:23 WIB

Desa Terdepan
Trending di Artikel