Networking dan Kolaborasi Kunci Menjaga Kawasan Konservasi

0
10

Jurnaldesa.id | Bogor – Pelestarian alam merupakan kegiatan pengabdian untuk menjaga dan merawat alam terutama hutan. Pada proses kegiatannya melibatkan putra putri negeri untuk turut berperan serta dalam Konservasi Alam dan Lingkungan Hidup. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Ahmad Munawir S.Hut., S.Msi; mengemukakan pengalamannya dalam mengelola Taman Nasional. Sejak 1999, ia awalnya bergabung dengan Departemen Perhutanan dan berlanjut ke pengalaman – pengalaman kerja berikutnya di beberapa Taman Nasional di Indonesia.

“Pertama kali bergabung dengan Departemen Perhutanan RI pada tahun 1999 sampai 2010 dan langsung dipercaya untuk bertugas di Taman Nasional Siberut, Sumatera Barat. Saat awal bergabung memang kita dipersiapkan untuk bersedia ditempatkan dimana saja di Indonesia. Kalau sekarang apabila ingin bergabung langsung ditanyakan ingin bertugas dimana. Banyak pengalaman yang saya dapat di Taman Nasional Si Berut, menjalin hubungan emosional dengan masyarakat adat setempat dalam pengelolaannya,” seru Ahmad Munawir, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Pusat Suaka Elang Jawa, Kabupaten Bogor.

Ia menambahkan, Taman Nasional Si Berut memiliki luas wilayah kurang lebih 190.000 Ha. Disana saya memulai karir saya, belajar tentang apa itu konservasi dengan cara membangun komunikasi bersama masyarakat setempat seperti LSM dan lainnya. Juga menjalin komunikasi dengan masyarakat adat setempat melalui program Collaborative Management. Dengan membangun komunikasi yang intens dengan masyarakat adat, pengelola dapat memahami dan mengerti apa yang bisa Taman Nasional Si Berut lakukan terkait wilayah adat.

“Taman Nasional Si Berut merupakan salah satu Cagar Biosfer, ini merupakan situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerja sama program Man and The Biosfer (MAB – UNESCO) untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati. Kerja sama dengan masyarakat adat membangun komunikasi terkait pengelolaan Taman Nasional Si Berut dan pembangunan berkelanjutan, berdasarkan atas upaya masyarakat lokal dan ilmu pengetahuan yang handal. Program Manajemen Kolaborasi ini menjadi andalan dalam merangkul masyarakat adat mengelola Taman Nasional Si Berut,” ujar Ahmad Munawir.

Ia melanjutkan, pengalaman yang mengesankan adalah saat ada penolakan atas dibentuknya Taman Nasional Si Berut dari LSM, kala itu kami mengalami stigma negatif dari masyarakat, aturan – aturan yang sesungguhnya untuk pelestarian alam dianggap sebagai aturan yang buruk dan menjajah. Nah, dengan program Collaborative Management inilah, yang tadinya NGO dan LSM itu bertentangan dengan Taman Nasional, berbalik menjadi mitra kerja kami. Proses kolaborasi dan komunikasi inilah yang menjadi kunci kinerja kami dan berkelanjutan, kemudian menjadi contoh permodelan bagi Taman Nasional Indonesia lainnya.

Untuk ulasan lebih lengkap dapat dilihat di pranala berikut :

Networking dan Kolaborasi Kunci Jaga Kawasan Konservasi

Pewarta : FEB
Editor : LIN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here