Pasar Sapi Terbesar Jawa Barat di Jonggol Belum Mampu Memberi Benefit bagi Warga Sekitar

0
893
jurnaldesa/foto.darmanto (Sapi asal Jawa di kandang sapi milik Deddy Ichwansyah yang siap dijual di Pasar Hewan Jonggol, Kamis, 30/01)

Dengan jarak tempuh 1 jam dengan kendaraan roda empat atau 1,5 jam dengan roda dua, kendaraan yang menempuh dari Jakarta sudah bisa tiba dengan mulus di satu Desa yang memiliki sejarah dibidang perdagangan sapi, yaitu Desa Jonggol. Desa ini terletak di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa barat. Dibanding dengan 13 desa lain di Kecamatan Jonggol, Desa Jonggol terletak di jantung pusat kecamatan. Alun-alun Jonggol, Kantor Kecamatan Jonggol, Polsek Jonggol, dan kantor instansi terkait lainnya semua terletak di Desa Jonggol.

Saat reporter Jurnaldesa.id menyambangi kantor Pemerintah Desa Jonggol pada Rabu (29/01), Kepala Desa Jonggol sedang tidak berada di tempat. “Pak Kepala Desa sedang ada acara Bimtek di Puncak, Cipanas, karena baru saja dilantik” jelas seorang warga Desa Jonggol, Deddy Ichwansyah (50) kepada reporter Jurnaldesa.id. Deddy yang kesehariannya beraktifitas sebagai pedagang sapi di Pasar Hewan Jonggol ternyata mengetahui banyak mengenai sejarah Pasar Hewan Jonggol yang cukup terkenal itu.

Dalam wawancaranya Deddy menjelaskan, “Awalnya pasar hewan ini bukan berada di Jonggol, tapi di daerah Rawa Panjang, Bekasi, itu sekitar tahun 1965. Lalu tahun 1969 pindah ke Pasar Loji, di Cibarusah, Bekasi.” Mengingat situasi Cibarusah yang saat itu kurang begitu aman bagi para pedagang hewan, akhirnya atas permintaan para pedagang sekitar tahun 1971 pasar dipindah dari Cibarusah ke Jonggol.

Pasar Hewan Jonggol yang sekarang berdiri pada dasarnya tidak mengalami banyak perubahan. Salah satu bedanya, jika waktu dahulu warga yang ingin menjual hewan ternak di Pasar Jonggol datang dari rumahnya dengan berjalan kaki, tapi sekarang sudah menaiki mobil pick up. “Saya pernah diceritakan pedagang sapi asal Cileungsi. Waktu muda sekitar tahun ‘70an, dia menuntun ternak sapi dan kerbau dari rumah ke pasar Jonggol dengan berjalan kaki selama 2 hari” jelas Deddy.

Seiring berjalannya waktu pasar hewan tradisional ini sejak berdirinya hingga kini ternyata masih menempati lahan pribadi milik warga Desa Jonggol, H. Surdi (alm.). Meski sudah mengantongi izin dari Pemerintah Kabupaten Bogor sejak 1983, Pasar Hewan Jonggol sempat akan dipindahkan karena pihak Kabupaten Bogor telah menyiapkan lahan pengganti, tapi para pedagang tetap memilih lahan H. Surdi. “Mungkin karena faktor sejarah para pedagang tetap disini,” pungkas Deddy.

Pasar Hewan Jonggol yang semula lingkup lokal, hanya diisi pedagang terdekat dari Jonggol seperti Cileungsi, Cianjur, Cikalong, Purwakarta, Subang, sekitar periode ’80-‘90 lingkup Pasar Jonggol mulai meluas dengan datangnya pedagang hewan dari Lampung dan Jawa. “Pedagang dari Jawa umumnya berasal dari Pati, Sragen, Lamongan, Tuban, Situbondo, Lumajang, hingga Madura,” lanjut Deddy.

Meski asal pedagang di Pasar Hewan Jonggol kini meluas dari berbagai daerah, tapi durasi penjualan hanya dilakukan di waktu tertentu. Untuk penjualan kerbau, domba, kambing, dan ayam hanya dipasarkan pada hari Senin dan Kamis. Sedangkan untuk sapi hanya dijajakan pada hari Kamis. Namun demikian dua waktu tersebut ternyata mampu memenuhi pasokan kebutuhan daging untuk wilayah Jadebotabek, Bandung, Purwakarta, Banten, dan sekitarnya.

Berkaca dari situasi dan kondisi diatas dapat dikatakan bahwa Desa Jonggol cukup berkah karena menjadi Desa yang dikenal sebagai pusat perdagangan hewan, khususnya sapi, yang mampu memenuhi kebutuhan daging bagi warga Ibu Kota dan beberapa kota besar lain. Secara ekonomi pun tidak dipungkiri bahwa benefit atau manfaat yang didapat masyarakat Desa Jonggol atas keberadaan Pasar Hewan Jonggol, pasti lebih baik dari 13 desa lain yang terdapat di Kecamatan Jonggol.

Menyikapi hal ini Deddy kurang sependapat. “Pasar Hewan Jonggol belum memberi dampak positif langsung bagi masyarakat Desa Jonggol secara umum. Kegiatan jual beli sapi banyak dilakukan pedagang dari luar Jonggol, kami hanya pihak yang kebetulan ketempatan penjualan saja sehingga perputaran penjualan yang bisa mencapai 2-3 milyar dalam sehari tidak mengendap di Jonggol tapi langsung keluar dari Jonggol,” pungkas Deddy.

Lebih jauh Deddy menjelaskan, “Kondisi begini jadi serba salah, saat ini petani ternak dan kelompok ternak sapi di Desa Jonggol semakin hari kian menurun jumlahnya, tidak seperti dahulu lagi. Tapi disisi lain jumlah pedagang yang datang dari daerah lain semakin tinggi. Sehingga masyarakat Jonggol tidak mampu mengikuti kegiatan pasar hewan yang kebutuhannya cukup besar,” jelas Deddy.

Dengan momentum Pilkades kemarin, kiranya Kepala Desa terpilih mampu membuat terobosan baru dengan program-program yang terkait dengan keberadaan Pasar Hewan Jonggol yang notabenenya berada di Desa Jonggol. Sehingga benefit atau manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh seluruh masyarakat Desa Jonggol.

Pewarta: Djali Achmad
Editor: Djali Achmad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here