Refleksi Saksi Sejarah, Pemindahan Pemerintahan Bogor Tahun 1945

0
125
Chief in Editor Jurnal Desa, Djali Achmad dan Saksi Sejarah Pemerintahan Bogor, Sastra Wijaya

Jurnaldesa.id | Bogor – Peristiwa bersejarah terkait kemerdekaan Republik Indonesia dapat kita jumpai di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan penuh penderitaan dan pengorbanan para pahlawan sebagai pelaku sejarah.

Sastra Wijaya atau yang akrab disebut Abah Sastra merupakan saksi sejarah hidup peristiwa pindahnya Ibukota Bogor ke Desa Malasari. Lahir pada tahun 1919, Abah Sastra merupakan salah satu pelaku sejarah menyambut Bupati Bogor, Ipik Gandamanah. Peristiwa pemindahan Ibukota Bogor tersebut menjadi cerita sejarah yang disampaikan oleh Abah Sastra saat berjumpa dengan kru Jurnal Desa.

“Bupati Bogor saat itu, Ipik Gandamanah long march beserta para staf dan prajurit TNI dan Polisi kemerdekaan lengkap beserta ornamen Pemerintahan Daerah Bogor, diterima oleh Kepala Desa pertama Malasari, Abah Ining. Peristiwa long march dari Kota Bogor menuju Desa Malasari melalui Desa Cigudeg kemudian masuk ke Desa Jasinga yang akhirnya tiba di kantor Desa Malasari,” ujar Abah Sastra.

Pindahnya Ibukota Bogor saat itu, menurut penuturan Abah Sastra disebabkan oleh Agresi Militer Belanda yang menyusuri dan mengejar Pemerintahan Bogor hingga ke pelosok desa. Dengan penjagaan ketat dan kontra intelijen yang dilakukan dengan baik oleh penduduk dan pemuda Desa Malasari dan sekitarnya, membuat pasukan Belanda kehilangan jejak. Sehingga Pemerintahan Bogor melakukan aktivitasnya di Desa Malasari yang dipimpin oleh Ipik Gandamanah bekerjasama dengan Kepala Desa, Ining.

“Tiga tahun enam bulan lamanya Pemerintahan Bogor melakukan aktivitasnya dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari Desa Malasari. Saat itu Kabupaten dan Kota Bogor masih satu kesatuan wilayah, Abah Sastra yang saat itu merupakan bagian dari laskar rakyat angkatan 45 menuturkan ketika rombongan Pemerintahan Bogor datang ke Desa Malasari berjumlah ratusan orang. Kemudian pada tahun 1948 turun kembali ke Kota Bogor sebagai pusat Pemerintahan Daerah,” tutur Abah Sastra.

Kru Jurnal Desa, Explore Media dan Burangrang.com bersama Adik dari Abah Sastra yang juga merupakan saksi sejarah sekaligus pengelola Cagar Budaya Situs Sejarah, Rumah Pemerintahan Bogor pertama tahun 1945, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Indonesia.

“Di Desa Malasari saat ini masih terjaga dengan baik peninggalan sejarah Pemerintahan Bogor tahun 1945. Rumah kediaman Bupati Bogor saat itu telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Situs Sejarah oleh Bupati Bogor periode 2008 – 2013 dan 2013 – 2014, Rahmat Yasin. Di rumah inipun masih tersimpan dengan baik Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih pertama milik Pemerintahan Bogor. Beserta perlengkapan rumah tangga lainnya dirawat dengan baik oleh penduduk Desa Malasari,” ujar Abah Sastra.

Pada kesempatan jumpa kru Jurnal Desa, Abah Sastra menyampaikan kekecewaannya dengan tidak terselenggaranya upacara peringatan Kemerdekaan Indonesia pada tahun 2021.

“Di tahun – tahun sebelumnya upacara terlaksana dengan baik. Pemuda saat ini tidak mengerti pengorbanan yang dijalani oleh para pelaku sejarah untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ditambahkan olehnya, perjuangan kemerdekaan itu dilakukan demi masa depan anak cucu untuk hidup dalam keadaan baik dan sejahtera. Bukan karena adanya pandemi covid sebagai alasan tidak dilaksanakannya upacara peringatan Kemerdekaan Indonesia,” ucap Abah Sastra.

Sebagai sebuah catatan penting, Bupati Bogor, Ipik Gandamanah dilantik sebagai Menteri Dalam Negeri Pertama Republik Indonesia setelah kembali ke Pemerintah Pusat. Abah Sastra juga ikut dalam perjalanan pengawalan Pemerintahan Bogor kembali ke kota asal dan kemudian juga menjadi Kepala Desa Malasari setelah mengganti Kepala Desa sebelumnya Abah Ining.

Harapan Abah Sastra yang saat ini telah berusia 102 tahun, bagi pemuda sekarang adalah agar merawat Kemerdekaan Republik Indonesia dengan baik. Sebab saat penjajahan Jepang, Rakyat Indonesia mengalami kelaparan dan pengorbanan jiwa serta raga yang sangat bernilai bagi Bangsa Indonesia. Tujuannya adalah segala kemudahan yang sedang dinikmati Pemuda Indonesia saat ini terutama di bidang pendidikan dipergunakan dengan baik untuk kebaikan generasi muda.

Ulasan lengkap dapat disimak di tayangan berikut :

https://www.youtube.com/watch?v=ssW6rlUct7E

Pewarta : LIN
Editor : DJ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here