Menu

Mode Gelap
Akhirnya Bali Muncul Sebagai Satu-satunya Provinsi Mandiri 355 Desa Sangat Tertinggal di Kabupaten Tolikara Perlu Mendapat Perhatian 43 Dari 46 Distrik di Kabupaten Tolikara Masih Berstatus Sangat Tertinggal 1,5 Triliun Guna Tolikara Yang Lebih Baik di 2022 Sepenting Apa Skoring Indeks Desa Membangun (IDM)?

Dinamika · 13 Feb 2020 16:00 WIB ·

Sarwono Kusumaatmadja: Mengolah Sampah Menjadi Manfaat itu Mudah Namun Jarang Dilakukan

jurnaldesa/foto.Youtube/PP.Tebuireng (Sarwono Kusumaatmadja: Mengolah Sampah Menjadi Manfaat itu Mudah Namun Jarang Dilakukan)

Jurnaldesa.id | Jakarta – Sampah merupakan material sisa setelah berakhirnya suatu produksi atau kegiatan. Sampah memiliki tiga dampak yang signifikan bagi kehidupan masyarakat, yaitu terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, dan sosial ekonomi. Menurut Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Lingkungan Hidup periode 1993-1998, keberadaan sampah jika dikelola dengan baik akan memberi dampak positif dalam upaya mitigasi perubahan iklim yang saat ini sedang intens dikampanyekan.

Seperti dilansir dari kompasiana dengan akun Arief Priatna Suwendi, Sarwono yang sempat menjabat Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara periode 1988-1993, menjelaskan “sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan emisi gas rumah kaca, yang pada prosesnya akan berdampak pada perubahan iklim”. Lebih lanjut anggota DPD RI dari DKI Jakarta tahun 2004-2009 ini mengatakan, “keterlibatan semua pihak sangat penting agar sampah dapat terkelola dengan baik”.

Sarwono menambahkan, “Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam pengelolaan sampah. Diperlukan peran swasta dalam pengelolaan sampah khususnya pengelolaan yang berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat”. Alumni ITB tahun 1974 jurusan Teknik Sipil ini memastikan, jika sampah tidak dikelola baik bencana siap mengancam. Sebaliknya, sampah akan menjadi sahabat manusia apabila dikelola dengan baik, terlebih pengelolaannya itu mudah namun sayangnya jarang dilakukan.

Tokoh yang sempat menjabat Menteri Eksplorasi Kelautan periode 1999-2001 semasa pemerintahan Abdurrahman Wahid, mencontohkan, pola pikir masyarakat dapat berubah bila diberi contoh dan fasilitas maksimal dari kepala daerah. “Jika pengolahan sampah dilakukan secara benar akan menghasilkan pundi-pundi rupiah. Selain sampah menjadi terpilah, barang yang masih berguna dapat dijual kembali. Dan upaya itu tidak lepas dari dukungan kepala daerah kepada masyarakat,” tegas Sarwono.

“Indonesia saat ini sudah mengarah pada energi terbarukan. Dan sampah memiliki potensi ekonomi yang tinggi dalam hal energi terbarukan dengan mengubahnya menjadi energi listrik berupa Waste to Energy (WTE) atau menjadi sumber bahan bakar. WTE memiliki kelebihan sebab mampu burning dan menjadi biodigester, termasuk menjadi briket seperti batu bara,” pungkas Sarwono.

Pewarta: Djali Achmad
Editor: Djali Achmad
Referensi: Arief Priatna Suwendi

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 10 kali

Baca Lainnya

355 Desa Sangat Tertinggal di Kabupaten Tolikara Perlu Mendapat Perhatian

3 September 2022 - 23:58 WIB

Kabupaten Tolikara

43 Dari 46 Distrik di Kabupaten Tolikara Masih Berstatus Sangat Tertinggal

2 September 2022 - 16:58 WIB

Kabupaten Tolikara

Sepenting Apa Skoring Indeks Desa Membangun (IDM)?

25 Juli 2022 - 13:37 WIB

Desa Peliatan

Beberapa Data IDM Kemendes Terdapat Yang Tidak Konsisten

22 Juli 2022 - 19:32 WIB

IDM 2021

Mengapa Baksos TNI/Polri Ke Desa Tidak Masuk Variabel Penilaian IDM Kemendes?

21 Juli 2022 - 17:43 WIB

Baksos Korem 132/Tadaluko

Peroleh 885 Juta, Desa Sungai Benuh Jambi Tetap Berstatus Desa Sangat Tertinggal

20 Juli 2022 - 05:35 WIB

Desa Sungai Buluh
Trending di Dana Desa