Secercah Harapan di Kaki Pegunungan Cyclops (2)

0
228
jurnaldesa/Foto:BNPB (Doni yang datang bersama Menko Bidang PMK Muhadjir Effendy, Menkes Terawan Agus Putranto dan Komisi VIII dan IX DPR RI)

Harapan Besar

Kembali ke penyambutan Tari Tifa. Kehadiran Doni Monardo kali ke tiga itu tentu untuk menengok kabar dan memastikan bahwa warga Sentani semakin bangkit menjadi lebih baik, setelah satu tahun silam dilanda bencana.

Kali ini Doni datang tak sendiri. Turut hadir menyertai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan Komisi VIII dan IX DPR RI beserta rombongan.

Dalam perjamuan hangat berlatar belakang Pegunungan Cyclops, Doni membuka suara tentang pentingnya merawat dan menjaga alam. Alam memiliki kodrat penyeimbang kehidupan bumi. Jika alam rusak, tentu jadi ancaman bagi manusia.

Dalam kesempatan itu Doni juga mengingatkan tentang cerita masyarakat Papua yang dikenal sangat menghargai alam. Oleh sebab itu tidak ada alasan untuk tidak melindungi alam, khususnya untuk seluruhnya yang ada di Bumi Cenderawasih.

“Tanah adalah ibu kami, seyogyanya kita semua menjaga lingkungan” tutur Doni. Menyinggung soal banjir bandang, Doni yang sukses dengan Citarum Harum menjelaskan bagaimana air selalu pulang kerumah, mencari tempat yang rendah.

Dalam catatannya, Doni mengungkap bahwa sebagian wilayah terdampak banjir bandang di Sentani merupakan daerah yang dulunya dilalui sungai yang kini sudah mengering. Bantaran sungai yang telah puluhan tahun kering itu kemudian oleh sebagian besar pihak dijadikan hunian dan bangunan untuk kegiatan sehari-hari.

“Bahwa air itu pasti akan kembali ke rumahnya. Air selalu mencari tempat rendah. Kalau sekarang kita menimbun tempat yang pernah menjadi tempat tinggalnya air, cepat atau lambat air pasti akan kembali ke tempat semula,” tegas Doni.

Dalam hal ini Doni menjelaskan tiga instrumen sebagai upaya mitigasi dari konsep hidup harmoni dengan alam di Sentani. Pertama tentang hulunya, yaitu Pegunungan Cyclops ditangani dengan baik dengan mengembalikan kemampuan dan kodratnya.

Kedua, bagaimana memitigasi wilayah yang berada di bawah Pegunungan Cyclops. Lalu metode terakhir adalah bagaimana penanganan agar Danau Sentani tidak tercemar karena limbah kotoran manusia dan tidak terjadi sedimentasi.

Doni mengajak para tetua adat, tokoh adat, tokoh agama, budayawan dan pemimpin daerah untuk berkomitmen menjaga alam Sentani sebaik-baiknya. Sebab dengan menjaga alam maka alam akan menjaga umat manusia.

Doni menambahkan, “Kita harus komit. Kita jaga alam, Alam jaga kita. Kalau ini kita lakukan dengan baik saya yakin tidak akan ada korban karena bencana alam”. Doni juga menitipkan bagi warga Sentani yaitu mesin pengolah sagu dan rumah sagu.

Selain sumber energi sagu juga mengandung antioksidan, kaya serat dan baik untuk otot. Kedepannya, sagu diharapkan dapat lebih bernilai ekonomis dan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dengan hadirnya teknologi tersebut.

Selain sagu, Doni juga memberi mesin pengasap ikan yang dibuat oleh mahasiswa Universitas Cenderawasih. Alat yang dapat meningkatkan nilai ekonomi itu tercipta atas gagasan Doni ketika menyambangi Pasar Ikan Ramadi dengan hasil melimpah.

Selain bernilai ekonomi, ikan merupakan sumber protein penuh gizi yang dibutuhkan tubuh guna meningkatkan imunitas dan daya tahan tubuh. Imunitas merupakan benteng pertahanan tubuh untuk terhindar dari infeksi dan penularan Covid-19.

Doni Monardo yang memikul Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengatakan, saat ini ikan banyak dicari negara-negara karena mengandung omega tiga yang bermanfaat mencegah penularan virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19.

Menurut Doni, masyarakat Papua harus bangga dan bersyukur akan melimpahnya sumber makanan bergizi diwilayahnya yang tidak dimiliki negara lain. Dirinya berharap, komoditas utama Papua dapat membawa masyarakatnya pada tantangan yang ada, yakni bencana alam, kehidupan sosial ekonomi, dan terbebas Covid-19.

Doni mengingatkan warga untuk tetap memakai masker, cuci tangan dengan sabun, jaga jarak, dan makan sagu serta ikan. Di momen itu Desa Sereh seakan menyaksikan kembalinya sosok yang membuat warganya bangkit di kondisi sulit. Secercah harapan kembali hadir dari Pegunungan Cyclops di tepi Danau Sentani.

Rilis: BNPB
Pewarta: Djali Achmad
Editor: Djali Achmad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here