JURNALDESA.ID | Sempat terungkit naik tipis sekitar 0,5 persen pada hari-hari Lebaran 2022, harga beras cepat melandai kembali. Rata-rata nasional harga beras kelas Super 1 stagnan di level Rp13.100 per kg, pada Rabu (25/5/2022).
Turun Rp50 per kg dari posisi sepekan sebelumnya. Harga Super 2 bertengger pada angka Rp16.650, kelas medium di Rp11.750, dan jenis yang termurah Rp10.400. Semuanya nyaris tidak beringsut dalam sepekan terakhir.
Harga beras stabil dan terjaga. Setidaknya, gambaran itulah yang terekam oleh Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan. Tentu ada variasi dari satu daerah dengan yang lain.
Toh, hampir di semua daerah situasi harga beras itu terus stabil. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), unit kerja di bawah BI yang memantau harga pangan juga mengonfirmasikan situasi tersebut. Tak ada lonjakan.
Pasokan beras nasional aman. Perum Bulog menyatakan, kini stok beras di gudangnya bergerak di antara 1 hingga 1,5 juta ton. Jumlah itu dipandang cukup guna menjaga stabilitas harga dan pasokan secara nasional. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso yakin betul impor beras tak perlu dilakukan.
“Beberapa tahun terakhir ini Indonesia tidak impor beras. Mudah-mudahan sampai akhir tahun ini juga tidak impor,” ujar Komjen (Purn) Budi Waseso, mantan Kabareskrim Mabes Polri, dalam konferensi pers di kantor Perum Bulog, Jakarta, Selasa (10/5/2022).
Dalam catatannya, sejak 2019 Indonesia tidak mengimpor beras dari luar negeri. Budi Waseso meyakini, stok di masyarakat cukup besar setelah panen raya yang cukup berhasil pada Maret-April 2022. Proyeksi produksi padi antara Mei-Desember 2022 diperkirakan cukup besar. “Jadi, stok beras ini akan terus bertambah,” ucap Budi Waseso.
Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal April 2022 membuat prediksi, produksi beras Indonesia pada empat bulan pertama 2022 mencapai 25,4 juta ton gabah kering giling (GKG), yang setara dengan 14,63 juta ton beras. Ada kenaikan 7,7 persen dari tahun sebelumnya.
Prediksi itu berdasarkan pada luas area tanam dan laporan tingkat risiko yang ada. Kenaikan 7,7 persen disumbang oleh mundurnya musim tanam di sejumlah area di Jawa Timur dan Lampung. Sehingga masa panen yang sedianya terjadi di akhir 2021 bergeser masuk ke tahun 2022.
Ketersediaan air juga cukup besar dan merata. Maka, luas panen periode Januari-April 2022 mencapai 4,8 juta ha, atau 8 persen lebih tinggi dari periode yang sama di 2021. Meski ada sebagian bergeser masa panen, data yang dirilis BPS berdasar Angka Tetap (ATAP) pada 2021, luas panen padi mencapai 10,41 juta ha dengan produksi sebesar 54,42 juta ton GKG.
Jika dikonversikan menjadi beras, maka produksi di 2021 mencapai 31,36 juta ton. Hasil panen itu diperkirakan memberi surplus 1,33 juta ton dibandingkan perkiraan kebutuhan konsumsi setahun yang sebesar 30,03 juta ton.
Dengan modal produksi 14,63 juta ton pada periode Januari-Maret, pengadaan beras tanpa impor di 2022 menjadi sangat mungkin, jika semua berjalan normal, tak ada anomali cuaca dan ledakan hama penyakit padi.
Catatan statistik menunjukan, panen Januari-April biasanya 38-40 persen dari produksi tahun berjalan. Dan realisasi 2022, panenan Januari-April telah nyumbang 48 persen dari konsumsi. Kekurangan 16 juta ton beras untuk konsumsi nasional agaknya tak sulit dipenuhi dari produksi Mei-Desember.
Ada variasi yang besar dalam produksi beras dari bulan ke bulan. Panenan terbesar terjadi di bulan Maret dan April. Hasil panen menyusut di sepanjang Mei, Juni, dan Juli, lalu naik lagi pada Agustus-September meski hanya sekitar 50-60 persen dari panen Maret-April.
Berikutnya, pada Oktober, November dan Desember, areal panen sangat rendah. Mulai meningkat pada Januari-Februari. Begitu siklusnya mengikuti ketersediaan air di sawah yang dipengaruhi oleh angin musim monsunal.
Dalam praktiknya, neraca konsumsi beras itu tidak bisa dihitung dalam kurun tahunan. Konsumsi beras pada 2022 sebagian adalah dari cadangan yang diperoleh dari stok kelebihan beras yang ada pada akhir 2021.
Dalam catatan Badan Pangan Nasional, ada stok beras (hasil produksi 2021) sebesar 5,27 juta ton yang masuk ke 2022. Badan Pangan memproyeksikan produksi beras di 2022 mencapai 31,68 juta ton. Walhasil, ketersediaan beras nasional di 2022 bisa mencapai 36,95 juta ton.
Jika dikurangi dengan konsumsi yang 30,90 juta ton, maka akan ada stok 6,05 juta ton yang akan masuk ke tahun 2023. Bila kalkulasi ini sesuai, maka 2023 pun kemungkinan tak perlu impor beras.
Kementerian Pertanian menyatakan kunci sukses swasembada beras ialah peningkatan produktivitas. Penciutan sawah produktif akibat konversi penggunaan lahan diimbangi kenaikan produktivitas. Rata-rata, produktivitas sawah petani pada 2022 mencapai 5,22 ton GKG/ha, meningkat dari 5,12 ton/ha.
Surplus hasil pertanian semakin penting di tengah gejolak harga pangan dunia yang makin serius. Indeks harga pangan dunia meningkat. Harga-harga pangan impor menjadi semakin mahal. Sementara Indonesia masih mengimpor banyak produk pangan, mulai dari gandum, kedelai, susu, daging, bawang putih, gula.
Berita baiknya, menurut prognosa Badan Pangan Nasional, Indonesia terbantu oleh stok pangan hasil limpahan 2021. Memasuki 2022, ada stok limpahan jagung 720 ribu ton, yang cukup untuk membuat harga tidak bergolak di awal tahun.
Proyeksi produksi jagung tahun ini 16,6 juta ton, dan ditambah stok tadi, bisa menghasilkan surplus 1,58 juta ton, untuk dibawa masuk (carry over). Ia akan menjadi stok awal untuk kebutuhan jagung 2023.
Stok bahan pokok bawaan 2021 ada juga yang berupa kedelai (191 ribu ton), bawang putih (191 ribu ton), daging beku (sapi dan kerbau), gula pasir. Termasuk bahan pangan lain yang berguna untuk stabilitas harga dan pasokan di awal 2022.
Dari sejumlah bahan pokok itu, Organisasi Pangan Dunia (FAO) memberi peringatan soal kenaikan indeks harganya. Utamanya pada produk sereal (jagung, beras, gandum, kedelai) dan susu. Namun, gula dan daging relatif stabil.
Untuk sereal, beras dan jagung cukup bisa memberi harapan. Untuk beras, menurut Dirut Perum Bulog Budi Waseso, setidaknya sejak 2019 Indonesia tak mengimpor beras. Swasembada beras ini pernah dicapai antara 1984-1988, dan sejak itu terus mengimpor tiap tahunnya sampai 2018.
Jagung boleh jadi dapat mengikuti jejak padi. Namun, ketergantungan impor sulit dihindarkan pada gandum dan kedelai. Keduanya tanaman subtropis yang sulit capai tingkat keekonomian yang tinggi untuk dibudidayakan di alam tropis.
Pewarta: MAD
Sumber: Indonesia.go.id