Menu

Mode Gelap
Sepenting Apa Skoring Indeks Desa Membangun (IDM)? Beberapa Data IDM Kemendes Terdapat Yang Tidak Konsisten Mengapa Baksos TNI/Polri Ke Desa Tidak Masuk Variabel Penilaian IDM Kemendes? Peroleh 885 Juta, Desa Sungai Benuh Jambi Tetap Berstatus Desa Sangat Tertinggal Profil Desa Paling Sangat Tertinggal di Indonesia

Dinamika · 2 Jul 2021 13:00 WIB ·

Work From Bali, Pertolongan Pertama Sektor Parekraf Bali


Work From Bali, Pertolongan Pertama Sektor Parekraf Bali Perbesar

Jurnaldesa.id | Jakarta – Program Work From Bali (WFB) tengah memasuki tahap finalisasi dan akan segera direalisasikan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno memiliki optimisme tinggi akan dampak positif program Work From Bali terhadap perekonomian Bali.

Work From Bali merupakan program yang difasilitasi negara untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) di bawah koordinasi Kemenko Bidang kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves). Kemenko Marves mengomandoi tujuh Kementerian, di mana salah satunya adalah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf).

Program Work From Bali bagi ASN dianggap sebagai program yang tepat. Kegiatan ini diyakini dapat membantu memulihkan perekonomian, khususnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Bali. Langkah pemerintah dalam mengambil inisiatif WFB tidak dapat dipisahkan dari kondisi terkini Bali. Sebagai wilayah yang terpuruk akibat pandemi COVID-19, Bali membutuhkan uluran tangan dari banyak pihak untuk kembali bangkit.

Dalam kesempatan ini Menparekraf juga mengungkapkan keprihatinannya. Mengingat sampai Weekly Press Briefing disampaikan, tercatat ada lebih dari 2 juta lapangan pekerjaan di Bali yang terancam hilang. Dampak keterpurukan ekonomi di Pulau Dewata akibat pandemi tergolong sangat besar. Bahkan ketika daerah-daerah lain sudah berangsur pulih, Bali belum menunjukkan sinyal yang sama.

Berdasarkan data terakhir dari BPS, terkait perkembangan pariwisata Provinsi Bali pada Februari 2021, tingkat penghunian kamar (TPK) untuk hotel bintang hanya 8,99% dan hotel non bintang sebesar 7,70%. Maka tidak heran kalau Work From Bali disebut-sebut sebagai emergency help bagi Bali. Terlebih dengan hadirnya ASN di Bali diharapkan ada peningkatan okupansi penginapan.

“Work From Bali juga memberikan multiplier effect kepada produk-produk ekonomi kreatif, seperti kuliner, souvenir, maupun fashion, dan juga ekonomi rakyat lainnya hingga 70 persen,” sebut Sandiaga dalam Weekly Press Briefing. Ungkapan tersebut merujuk pada dampak positif WFB yang turut berpengaruh pada peningkatan permintaan terhadap produk-produk kreatif.

Versi Baru Work From Bali yang Lebih Efektif
Selain Work From Bali juga hadir gagasan baru dari Menparekraf Sandiaga Uno, yaitu Work From Destination dan Work From Gallery. Work From Destination merupakan penerapan Work From Bali namun di beberapa lokasi strategis, seperti Yogyakarta, Lombok, Likupang, dan Labuan Bajo. Hal ini diharapkan dapat memberikan pertolongan pertama bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah tersebut.

Menparekraf Sandiaga Uno juga menawarkan opsi Work From Gallery bagi para wisatawan. Daerah Ubud, Bali dipilih menjadi salah satu lokasi yang diusulkan untuk pelaksanaan program ini. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari keberadaan beragam galeri dan museum seni di Ubud. Kawasan ini juga menyimpan potensi besar di sektor pariwisata edukasi, sehingga cocok untuk dijadikan lokasi Work From Gallery karena suasananya telah terbangun.

Work From Bali Menyambut Digital Nomad
Kegiatan Work From Bali juga menjadi bentuk adaptasi dan pergeseran dari skema bekerja konvensional ke digital nomad. Digital nomad merujuk pada istilah di mana seseorang bekerja lepas di lokasi yang berbeda dari perusahaan tempatnya bekerja. Digital nomad sendiri terbagi menjadi dua versi, yakni workation dan bleisure.

Workation lebih menekankan pada penggabungan antara bekerja dengan liburan. Sementara bleisure mengkombinasikan antara business dan leisure, sehingga lebih menekankan pada perjalanan bisnis, termasuk di dalamnya perjalanan dinas. Bali diproyeksikan menjadi salah satu wilayah yang ideal untuk mendatangkan wisatawan digital nomad di Indonesia.  Karena itu skema 25% yang menjadi acuan WFB bisa menjadi langkah yang tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat waktu.

Menyambut rencana tersebut, ketersediaan jaringan telekomunikasi juga menjadi salah satu hal yang dipersiapkan di wilayah digital nomad. Pasalnya saat bekerja di luar ruangan, jaringan telekomunikasi adalah merupakan hal penting guna memperlancar pekerjaan. Selain itu, dengan adanya program Work From Bali juga akan memberikan keuntungan tersendiri bagi para ASN. Diharapkan produktivitas akan semakin meningkat seiring dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh Bali.

Tidak hanya mendorong kesuksesan rencana Work From Bali, sebagai pertolongan pertama sektor parekraf Bali, Kemenparekraf/Baparekraf juga berupaya melaksanakan sejumlah kegiatan dengan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali. Tujuannya untuk menggerakkan kembali roda perekonomian di Pulau Dewata.

Penulis: LIN
Editor: DJ

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Sepenting Apa Skoring Indeks Desa Membangun (IDM)?

25 Juli 2022 - 13:37 WIB

Desa Peliatan

Beberapa Data IDM Kemendes Terdapat Yang Tidak Konsisten

22 Juli 2022 - 19:32 WIB

IDM 2021

Mengapa Baksos TNI/Polri Ke Desa Tidak Masuk Variabel Penilaian IDM Kemendes?

21 Juli 2022 - 17:43 WIB

Baksos Korem 132/Tadaluko

Peroleh 885 Juta, Desa Sungai Benuh Jambi Tetap Berstatus Desa Sangat Tertinggal

20 Juli 2022 - 05:35 WIB

Desa Sungai Buluh

Profil Desa Paling Sangat Tertinggal di Indonesia

18 Juli 2022 - 19:36 WIB

Desa Diyoudimi

Akses Internet dan Jalan Aspal Belum Ada, Kurulimbu Selatan NTT Naik Status

15 Juli 2022 - 18:02 WIB

IDM Kemendes PDTT
Trending di Artikel