Menu

Mode Gelap

Pendidikan · 25 Jul 2019 09:00 WIB ·

Keluarga, Harta Yang Paling Berharga

jurnaldesa/foto:kemenpppa (forum anak nasional 2019 di Makassar)

Jurnaldesa.id | Makassar – “Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga. Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah. Mentari hari ini berseri indah. Terima kasih, Emak. Terima kasih, Abah. Untuk tampil perkasa bagi kami putera puteri yang siap berbakti.”

Sepenggal lirik lagu berjudul “Harta Berharga” yang dinyanyikan peserta Forum Anak Nasional (FAN) 2019 dari seluruh daerah di Indonesia menggema dalam pertemuan Satu Dekade FAN. Kegiatan yang mengambil tema “Kita Beda Kita Bersaudara, Bersama Kita Maju” ini diselenggarakan di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, dan diikuti oleh Forum Anak dari 514 kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Humas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebutkan bahwa peran penting keluarga sangat penting dan diperlukan guna mencegah tindakan-tindakan yang merugikan anak. Berbagai permasalahan yang masih dialami anak-anak seperti kekerasan fisik dan seksual, diskriminasi, eksploitasi anak, trafficking, serta perkawinan anak, masih kerap terjadi dilingkungan keluarga.

Dalam Forum Anak Nasional, Ara, yang mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta, mengatakan kelompoknya mengangkat isu perkawinan anak mengingat Indonesia menempati peringkat ke-7 tertinggi di dunia. “Untuk menekan angka perkawinan anak, kami mengusulkan 2P (Pelopor dan Pelapor). Caranya dengan pendekatan terhadap teman sebaya dan kerja sama dengan pemangku kepentingan lain. Kami harap batas minimal usia perkawinan dinaikkan, baik untuk perempuan dan laki-laki,” tutur Ara.

Berbeda dengan Ara, perwakilan Forum Anak Nasional asal Nusa Tenggara Barat, Akbar, mengatakan kelompoknya mengangkat isu pekerja migran. Mereka menilai masih banyak anak yang menjadi pekerja migran di Indonesia. Akibatnya, anak-anak tidak mendapatkan hak-haknya. Ketika menjadi pekerja migran, mereka disiksa, dipekerjakan tanpa upah layak, dan identitas dipalsukan, terutama dari faktor usia.

“Pemerintah harus mengedukasi masyarakat untuk menghilangkan stigma bahwa bekerja di luar negeri dapat memberikan upah yang lebih besar. Kami berharap pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan agar masyarakat memilih bekerja di Indonesia dibandingkan negara lain,” ujar Akbar.

Dalam kesempatan itu Akbar mengharapkan, “orang tua harus dapat mempertahankan keharmonisan keluarga. Masih ada anak-anak yang mudah dieksploitasi karena ketidakharmonisan keluarga. Komunikasi antara orang tua dan anak juga menjadi hal penting untuk memastikan agar anak tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.”

Pewarta: Djali Achmad
Editor: Djali Achmad

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 3 kali

Baca Lainnya

Bagaimana Aspek “Pendidikan” Pada Indeks Ketahanan Sosial di Desa Anda? (IDM Part 3)

5 Februari 2022 - 10:00 WIB

Pemkab Bandung Luncurkan Program Sekolah Mengaji

4 Oktober 2021 - 12:00 WIB

Abdul Halim Inginkan Kapasitas Pendamping Desa Terus Ditingkatkan

4 Oktober 2021 - 09:00 WIB

Menteri Desa PDTT RI, Abdul Halim Iskandar

Abdul Halim : Sampai Sekarang Saya Masih Santri

20 September 2021 - 21:00 WIB

Menteri Desa PDTT RI, Abdul Halim Iskandar dalam kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Alhamdulillah, Rembang, Jawa Tengah, Indonesia. Foto : Kemendesa PDTT RI

2.234 Desa Alokasikan Anggaran Untuk Perpustakaan Demi Tingkatkan Minat Baca

16 September 2021 - 17:00 WIB

Sekretaris Jenderal Kemendesa PDTT RI, Taufik Madjid. Foto : Kementerian Pedesaan PDTT RI.

Dark Tourism Jadi Wisata Memoar dan Edukasi untuk Milenial

30 Agustus 2021 - 15:00 WIB

Museum Tsunami Aceh
Trending di News