Menu

Mode Gelap
Sepenting Apa Skoring Indeks Desa Membangun (IDM)? Beberapa Data IDM Kemendes Terdapat Yang Tidak Konsisten Mengapa Baksos TNI/Polri Ke Desa Tidak Masuk Variabel Penilaian IDM Kemendes? Peroleh 885 Juta, Desa Sungai Benuh Jambi Tetap Berstatus Desa Sangat Tertinggal Profil Desa Paling Sangat Tertinggal di Indonesia

Dinamika · 21 Feb 2020 15:00 WIB ·

NEMov, Get Plastic, Masyarakat Adat Cireundeu Peringati 15 Tahun Longsor Sampah TPA Leuwigajah

jurnaldesa/foto.Media Indonesia (NEMov, Get Plastic, dan Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Peringati 15 Tahun Longsor Sampah TPA Leuwigajah)

Jurnaldesa.id | Cimahi – Tepat 15 tahun yang lalu, pada tanggal 21 Februari 2005 telah terjadi tragedi longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah. Tragedi yang diakibatkan karena ledakan gas metan hasil dari gunungan sampah itu, menelan korban sebanyak 157 jiwa. Tidak hanya itu, Kampung Cilimus dan Kampung Pojok juga menghilang dari peta karena tertimbun longsoran sampah tersebut.

Akibat terjadinya bencana longsor di TPA yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi ini, pemerintah menetapkan status bencana nasional dan kemudian setiap tanggal 21 Februari dicanangkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Menyikapi tragedi tersebut NEMov Foundation dan Get Plastic bersama Masyarakat Adat Kampung Cireundeu, menyelenggarakan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2020 di titik nol terjadinya bencana yang ditimbulkan karena kelalaian manusia dalam tata kelola sampah. Kegiatan tersebut bertemakan “Smara – Wiloka – Giring”, yang memiliki arti “Ingat – Sadar – Gerak”.

Menurut release yang diterima redaksi Jurnaldesa.id, kegiatan tersebut sebagai ruang refleksi berbagai stakeholder terhadap kondisi dan permasalahan sampah saat ini, serta untuk merumuskan strategi bersama demi kehidupan yang lebih baik.

Peringatan HPSN 2020 itu berisikan ragam kegiatan, antara lain pameran karya hasil olahan sampah, talkshow “Menapak Jejak TPA Leuwigajah, Menjaga Alam Demi Masa Depan”, workshop, pelatihan lingkungan hidup, pagelaran musik tradisional, pertunjukan teater, dan lainnya.

Menurut panitia, kegiatan itu berlangsung berdasarkan kolaborasi berbagai komunitas peduli lingkungan, institusi pendidikan, institusi pemerintahan. Pihak panitia HPSN juga mengajak seluruh masyarakat, pemerintah dan komunitas yang hadir untuk ikut menandatangani petisi “Bumi MENGGUGAT 2020”.

Tujuan dari petisi itu untuk mendorong semua lapisan, terutama pemerintah untuk lebih memperhatikan lingkungan dan menerapkan managemen pengelolaan sampah yang lebih baik lagi demi masa depan generasi bangsa. Panitia juga berharap kejadian 15 tahun lalu di ex TPA Leuwigajah tidak terulang kembali di tempat lain.

Pewarta: Darmanto
Editor: Djali Achmad

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 50 kali

Baca Lainnya

Sepenting Apa Skoring Indeks Desa Membangun (IDM)?

25 Juli 2022 - 13:37 WIB

Desa Peliatan

Beberapa Data IDM Kemendes Terdapat Yang Tidak Konsisten

22 Juli 2022 - 19:32 WIB

IDM 2021

Mengapa Baksos TNI/Polri Ke Desa Tidak Masuk Variabel Penilaian IDM Kemendes?

21 Juli 2022 - 17:43 WIB

Baksos Korem 132/Tadaluko

Peroleh 885 Juta, Desa Sungai Benuh Jambi Tetap Berstatus Desa Sangat Tertinggal

20 Juli 2022 - 05:35 WIB

Desa Sungai Buluh

Profil Desa Paling Sangat Tertinggal di Indonesia

18 Juli 2022 - 19:36 WIB

Desa Diyoudimi

Akses Internet dan Jalan Aspal Belum Ada, Kurulimbu Selatan NTT Naik Status

15 Juli 2022 - 18:02 WIB

IDM Kemendes PDTT
Trending di Artikel