TNGHS Hutan Hujan Tropis Terluas yang Tersisa di Pulau Jawa

0
18
Chief in Editor Jurnal Desa podcast bareng Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Indonesia

Jurnaldesa.id | Bogor – Taman Nasional dan Konservasi Alam menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah Indonesia. Dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) memprioritaskan kelestarian alam dibawah naungan Dirjen KSDAE yang meliputi 54 Taman Nasional dan 74 Unit Pengelola Kawasan Konservasi Alam di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan ini kru Jurnal Desa mencoba untuk mengulik podcast yang ditayangkan Explore Media News bersama dengan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Ahmad Munawir. Tentunya begitu padat informasi yang dapat dieksplorasi di TNGHS ini, agar menjadi sebuah khasanah pengetahuan bersama, maka dianggap perlu untuk mengulas tentang rangkaian kegiatan yang terdapat di TNGHS.

“Halimun Salak adalah Hutan Hujan Tropis terluas yang tersisa di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, kita merawat dan menjaga kelestariannya bersama dengan masyarakat sekitar, baik warga pedesaan sampai ke masyarakat adat. Wilayahnya dikelilingi Banten, Bogor, dan Sukabumi,” ujar Ahmad Munawir, S.Hut, M.Si; Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Ia mengatakan, masyarakat adat adalah garda terdepan dari pelestarian alam. Dan karenanya, pihak TNGHS bahu membahu menjaga dan merawat kelestariannya bersama dengan warga pedesaan lainnya. TNGHS luasnya 87.699 Hektare terbagi dalam beberapa wilayah administrasi di Provinsi Jawa Barat. Tahun 1992 wilayah ini ditetapkan sebagai Kawasan Taman Nasional dan masih bernama Kawasan Taman Nasional Halimun.

“Pada tahun 2004, Gunung Halimun dan Gunung Salak dijadikan satu kawasan serta belum lama ini tahun 2015, kawasan diperluas yang tadinya 113 Ha menjadi seperti sekarang. Tadinya ruang lingkup kerjanya hanya di hutan belantara, sejak perluasan kawasan itulah pemukiman warga pedesaan dan masyarakat adat menjadi satu landscape yang dikelola secara menyeluruh,” ucap Ahmad Munawir.

Ia menyampaikan, bahwa ekosistem secara komprehensif inilah yang dikelola oleh Balai TNGHS. Dan kawasan ini dikenal sebagai tower air bagi kawasan Jabodetabek. Jadi kebersihan air dari hulu ke hilir sangat tergantung dari kelestarian TNGHS ini. Kerjasama antara warga pedesaan dan masyarakat adat untuk memastikan bahwa kita secara bersama menjaga kebersihan dan kelestarian alam.

“Di kawasan ini, di tempat kita sekarang adalah Pusat Suaka Satwa Elang Jawa. Tetapi disini kita tidak hanya mengelola satwa liar, juga merawat dan mengelola flora atau tumbuhan serta kehidupan bermasyarakat disekitar TNGHS,” imbuhnya.

Ia mengutarakan, bahwa hutan belantara ini adalah titipan dari generasi mendatang. Oleh karenanya, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk memelihara, merawat dan melestarikannya. Kawasan ini juga mendukung lifelyhood atau mata pencaharian masyarakat yang dalam kaitannya adalah ekonomi. Keberadaan Balai TNGHS ini adalah agar dalam pemanfaatan sumber daya yang ada sesuai dengan pelestarian alam.

“TNGHS memiliki potensi yang sangat besar, selain terkait dengan ekosistem yang saya sebutkan tadi, juga memiliki potensi energi yang besar, dalam hal ini energi panas bumi atau Geo Thermal. Jadi sumber energi diambil dari perut bumi TNGHS yang merupakan energi ramah lingkungan. Sebuah teknologi tingkat tinggi yang memang biayanya tak kecil tetapi untuk jangka panjang sangat baik untuk diterapkan. Apabila kita terus menjaga kelestarian TNGHS maka sumber energi listrik ramah lingkungan ini dapat terus berlangsung hingga masa depan,” pungkasnya.

Untuk ulasan lebih lanjut dapat disaksikan di tautan berikut :

Pewarta : LIN
Editor : DJ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here