Kang Deden, Pemburu Liar yang Kini Ikut Melestarikan Elang

0
20
Kang Deden, keeper burung di kawasan Suaka Satwa Elang Jawa, Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Jurnaldesa.id | Bogor – Pelestarian satwa langka merupakan prioritas Indonesia terkait ekosistem lingkungan. Dapat dimaklumi sebab keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia memang penting terkait koneksivitas manusia dan alam Indonesia. Salah satu suaka satwa langka yang diliput oleh kru Jurnal Desa adalah Suaka Satwa Elang Jawa yang berlokasi di Kampung Loji, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Sebagai sebuah upaya pelestarian Suaka Satwa Elang Jawa ini dibawah naungan Taman Nasional dan Konservasi SDA, Gunung Halimun Salak. Pada perkembangannya beragam fakta ditemui ketika peliputan dilakukan, program rehabilitasi merupakan kegiatan di suaka satwa ini. Kru Jurnal Desa berjumpa dengan keeper Elang, Kang Deden, yang merupakan pelestari Elang Jawa.

Pada awal masa remajanya, Kang Deden merupakan sosok pemburu burung Elang yang mengikuti kegiatan orang tuanya. Saat itu, ia tak memahami bahwa memburu Elang merupakan tindakan ilegal yang diberikan ganjaran hukuman. Dengan profesinya tersebut, Kang Deden menjual hasil buruannya ke pasar untuk dipelihara oleh oknum yang membeli.

“Memburu Elang sudah sejak umur 14 tahun, ikut bapak saya. Dengan menggunakan galah mencari sarang burung Elang untuk ditangkap dan kemudian dijual. Harga pasaran hasil perburuan saat itu Rp 15.000,- dijual kepada pembeli. Saat itu saya belum memahami bahwa kegiatan memburu Elang merupakan ilegal dan dilarang. Belum tahu bahwa Elang itu satwa langka yang dilindungi negara. Tetapi sekarang sudah tahu dan Alhamdulillah ikut dalam pelestariannya,” ungkap Kang Deden.

Elang Jawa, di Suaka Satwa Elang Jawa, Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Sebelum menjadi keeper burung Elang, ia menjalani proses pelestarian melalui beberapa yayasan dan ikut terlibat dalam proses observasi Elang. Bersama yayasan – yayasan tersebut, Kang Deden, mendapat edukasi bagaimana melakukan kegiatan penelitian terhadap ekosistem Elang Jawa hidup dan berkembang biak. Merupakan pengalaman yang mengesankan bagi dirinya, dan dari pengalaman inilah ia diberitahu bahwa burung Elang Jawa merupakan satwa yang dilindungi.

“Pernah melakukan observasi selama beberapa bulan, dari mulai menemukan sarang Elang hingga proses perkembangbiakan alaminya. Saya diminta untuk memantau dan mencatat setiap perkembangannya, mulai dari bertelur, proses pengeraman sampai menetas menjadi anak – anak Elang. Saat observasi itu, saya menyaksikan bagaimana pasangan burung Elang itu berkembangbiak,” ujar Kang Deden.

Keeper burung Elang Jawa di kawasan Suaka Satwa Elang Jawa mengutarakan bahwa Elang jantan dan Elang betina saling bergantian menjaga sarang dan mencari mangsa. Ditemui fakta juga bahwa ternyata Elang jantan juga ikut mengeram telur. Saat sang jantan pergi terbang memangsa, sang betina mengeram telurnya, begitupula sebaliknya.

“Proses bertelur sampai menetas dijalani oleh pasangan Elang selama tiga bulan. Selama proses itu terjadi Elang jantan dan betina bergantian menjaga sarang dan telur mereka sampai saat menetas telurnya. Tak berhenti sampai disitu, ketika anak – anak Elang masih berusia dini, Elang jantan dan betina pun juga bergantian menjaga sarang dan memberikan makanan kepada anak – anak Elang,” tutur Kang Deden.

Ia mengatakan, dari masa menetas hingga masa belajar terbang dijalani selama setahun oleh induk Elang tersebut. Sambil memberikan makanan kepada anak Elang, induknya pun mengajarkan terbang dengan melompat – lompat di sekitar sarang. Dari dahan ke dahan anak Elang belajar terbang yang kemudian teritorinya berkembang semakin jauh.

“Masa dewasa anak Elang adalah ketika sudah sampai umur 3 tahun bagi jantan dan 3 atau 4 tahun bagi Elang betina. Ketika sudah memasuki masa dewasa inilah, anak Elang sudah mulai mencari mangsanya sendiri. Dan apabila sudah memasuki umur ke 7 tahun maka daya jelajahnya pun semakin luas, rerata luas wilayahnya adalah 2.000 Hektare,” imbuhnya.

Elang Jawa, di pusat rehabilitasi Suaka Satwa Elang Jawa, Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Kang Deden menyampaikan bahwa burung Elang juga memiliki predator di ekosistem kehidupannya. Sesama Elang bisa saling berebut wilayah antara sesama jenis Elang atau yang berbeda jenis Elang. Pada proses pertikaiannya ada saat dimana Elang – Elang ini bertarung di udara sambil terbang untuk menguasai suatu wilayah.

“Elang juga memiliki predator alamiahnya, yang adalah sesama Elang, baik yang sejenis maupun yang berbeda jenis. Mereka mempertarungkan wilayah dan beberapa kali dapat disaksikan sesama Elang bertikainya di udara sambil terbang. Inilah peristiwa seleksi alam bagi burung Elang Jawa yang aslinya satwa liar yang dilindungi negara,” katanya.

Di Suaka Satwa Elang Jawa ini juga ada yang dipasangkan. Jadi rehabilitasi yang dilakukan adalah yang tadinya makannya tak sesuai habitatnya yang liar, kembali menjadi pemangsa karnivora. Dan di suaka inipun dari proses pasangan Elang yang dijodohkan telah menghasilkan satu Elang yang lahir di suaka ini. Serta sudah melepasliarkan beberapa Elang Jawa sampai ke Jawa Timur dan ada satu diantaranya yang dilepasliarkan langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo.

“Betul, bahwa rehabilitasi yang kita lakukan di suaka adalah pola makan dan pola hidupnya. Beberapa diantaranya yang tadinya jinak dan makan pur, kembali menjadi liar dan kembali makan daging. Proses konsumsi mangsanya pun bertahap dan dibutuhkan ketekunan tersendiri. Sudah ada sekitar 40 Elang Jawa yang dilepasliarkan, beberapa waktu yang lalu ada yang sampai dikirim ke Jawa Timur. Bahkan di suaka ini juga ada proses pengembangbiakan atau breeding yang telah melahirkan satu Elang Jawa yang asli terlahir di suaka ini. Ada juga Elang Jawa yang dilepasliarkan langsung oleh Presiden Joko Widodo,” pungkasnya.

Pewarta : LIN
Editor : DJ

Ulasan lebih lengkap dapat ditonton di tautan berikut :

Sang Pemburu Liar Kini Ikut Melestarikan Elang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here